<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>www.gappala.or.id</title>
	<atom:link href="http://gappala.or.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gappala.or.id</link>
	<description>Klub Gappala14 Jakarta - Indonesia Adventure</description>
	<lastBuildDate>Fri, 14 Aug 2009 07:35:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Gunung Salak</title>
		<link>http://gappala.or.id/archives/48</link>
		<comments>http://gappala.or.id/archives/48#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 07:34:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gappala.or.id/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Salak memiliki 7 (tujuh) puncak yang merupakan sisa letusan ribuan tahun lampau. Sampai sekarang puncak yang sering dijelajahi pendaki hanya 2 puncak saja, yaitu Puncak I (2.211 mdpl) dan Puncak II (2.098), karena sulitnya medan dan gunung ini tidak terlalu popular dikalangan para pendaki.
Dibandingkan gunung terdekatnya, G.Gede dan G.Pangrango, G.Salak jarang sekali didaki kecuali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Gunung Salak memiliki 7 (tujuh) puncak yang merupakan sisa letusan ribuan tahun lampau. Sampai sekarang puncak yang sering dijelajahi pendaki hanya 2 puncak saja, yaitu Puncak I (2.211 mdpl) dan Puncak II (2.098), karena sulitnya medan dan gunung ini tidak terlalu popular dikalangan para pendaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Dibandingkan gunung terdekatnya, G.Gede dan G.Pangrango, G.Salak jarang sekali didaki kecuali untuk acara pelantikan ataupun pelatihan. Dua puncak ini dapat ditelusuri dari beberapa jalur pendakian. Untuk Puncak I, kita dapat awali dari Terminal Baranangsiang, Bogor lalu disambung bus ke arah Sukabumi. Kurang lebih 40 Km dari Bogor, tepatnya di Cimelati, kecamatan Cicurug, kita turun dan diteruskan ke Gg. Buntu dengan menumpang ojek atau sejenisnya. Gunung ini memiliki kontur yang sama sebagaimana tekstur geologi gunung berapi umumnya, sehingga ada punggungan dan lembah yang beraturan. Punggungan yang terdekat mencapai puncak Salak I adalah lewat Cimelati ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurang lebih 4-5 jam kita dapat mencapainya. Jalan setapak yang dilalui sangat rimbun, apalagi binatang melata dan mamalia seperti ular, monyet serta burung Elang Jawa-pun yang langka dapat kita jumpai di gunung ini. Hanya saja saat ini, keragaman hayati G. Salak yang eksotis ini sudah mulai terganggu dengan adanya penebangan dan perburuan liar. Saat favorit untuk pendakian adalah pada musim hujan, dimana persediaan air berlimpah dan suasana hutan yang lembab. Apabila musim paceklik air sulit sekali diperoleh, karena sungai sangat minim air. Jalur Cimelati ini juga memiliki 3 buah air terjun yang sangat indah dan hanya dapat dinikmati pada musim penghujan saja</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk kembali turun, puncak Salak I memiliki beberapa jalur alternatif yaitu menuju Cidahu yang dapat memakan waktu 6-7 jam, jalur Ciawi sekitar 7 jam perjalanan atau kembali ke Cimelati dengan hanya 2-3 jam saja. Perlu diketahui, jalur-jalur ini memiliki keunikan tersendiri, tumbuh-tumbuhan dan hewan yang ditemui berbeda berdasar elevasi dataran, sehingga dapat memperkaya khasanah pengetahuan kita. Puncak Salak II dapat didaki yang paling terdekat adalah lewat daerah Curug Nangka, Ciapus. Dari puncak ini kitapun dapat menuju Puncak I yang jalurnya cukup menantang, karena kita melewati beberapa jurang dan lembah. ( By : Everest Website)</p>
<p style="text-align: justify;">Data Pengirim : Gappala14 Date:12/2/2002</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gappala.or.id/archives/48/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengatasi Gangguan Binatang Saat Kemping</title>
		<link>http://gappala.or.id/archives/45</link>
		<comments>http://gappala.or.id/archives/45#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 07:14:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gappala.or.id/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[a. Nyamuk ·
Obat nyamuk, autan, dll · Bunga kluwih dibakar · Gombal dan minyak tanah dibakar kemudian dimatikan sehingga asapnya bisa mengusir nyamuk · Gosokkan sedikit garam pada bekas gigitan nyamuk
b. Laron ·
Mengusir laron yang terlalu banyak dengan cabe yang digantungkan
c. Lebah
Apabila disengat lebah : · Oleskan air bawang merah pada luka berkali-kali · Tempelkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>a. Nyamuk ·<br />
Obat nyamuk, autan, dll · Bunga kluwih dibakar · Gombal dan minyak tanah dibakar kemudian dimatikan sehingga asapnya bisa mengusir nyamuk · Gosokkan sedikit garam pada bekas gigitan nyamuk</p>
<p>b. Laron ·<br />
Mengusir laron yang terlalu banyak dengan cabe yang digantungkan</p>
<p>c. Lebah<br />
Apabila disengat lebah : · Oleskan air bawang merah pada luka berkali-kali · Tempelkan tanah basah/liat di atas luka · Jangan dipijit-pijit · Tempelkan pecahan genting panas di atas luka</p>
<p>d. Lintah<br />
Apabila digigit lintah : · Teteskan air tembakau pada lintahnya · Taburkan garam di atas lintahnya · Teteskan sari jeruk mentah pada lintahnya · Taburkan abu rokok di atas lintahnya</p>
<p>e. Semut ·<br />
Gosokkan obat gosok pada luka gigitan · Letakkan cabe merah pada jalan semut · Letakkan sobekan daun sirih pada jalan semut</p>
<p>f. Kalajengking dan lipan ·<br />
Pijatlah daerah sekitar luka sampai racun keluar · Ikatlah tubuh di sebelah pangkal yang digigit · Tempelkan asam yang dilumatkan di atas luka · Bobokkan serbuk lada dan minyak goreng pada luka · Taburkan garam di sekeliling bivak untuk pencegahan</p>
<p>(sumber Diktat DIKSAR Gappala14 di G. Salak)</p>
<p>Diambil dari : www27.brinkster.com/gappala<span style="color: #ffcccc; font-family: verdana; font-size: 85%;"><span style="font-style: italic; color: #cc0000;"></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gappala.or.id/archives/45/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Management Perjalanan Alam Bebas</title>
		<link>http://gappala.or.id/archives/24</link>
		<comments>http://gappala.or.id/archives/24#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 07:14:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gappala.or.id/archives/24</guid>
		<description><![CDATA[Persiapan
Untuk merencanakan suatu Perjalanan ke alam bebas Harus ada persiapan dan penyusunan secara matang. ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W &#38; 1 H, yang kepanjangannya adalah Where, Who, Why, When dan How.
Berikut ini  aplikasi dari rumusan tersebut:

 Where (Dimana), untuk melakukan suatu Kegiatan alam kita harus mengetahui dimana yang akan kita digunakan, Contoh: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000; font-family: verdana; font-size: 85%;"><span style="font-weight: bold;">Persiapan</span></span></p>
<p>Untuk merencanakan suatu Perjalanan ke alam bebas Harus ada persiapan dan penyusunan secara matang. ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W &amp; 1 H, yang kepanjangannya adalah Where, Who, Why, When dan How.<br />
Berikut ini  aplikasi dari rumusan tersebut:</p>
<ul>
<li> Where (Dimana), untuk melakukan suatu Kegiatan alam kita harus mengetahui dimana yang akan kita digunakan, Contoh: Tlogo Dlingo-Tawangmangu</li>
</ul>
<ul>
<li> Who (Siapa), apakah anda akan melakukan Kegiatan alam tersebut sendiri atau dengan berkelompok. Contoh: Satu Kelompok ( 25 Personil) Terdiri dari 20  Orang anggota Penuh (panitia) dan 5 Orang anggota muda (peserta)</li>
</ul>
<ul>
<li> Why  (Mengapa),  ini adalah pertanyaan yang cukup panjang jawabannya dan bisa bermacam-macam Contoh : Untuk melakukan DIKLATSAR KE IX dan pelantikan Anggota penuh PMPA VAGUS<span id="more-24"></span></li>
</ul>
<ul>
<li> When (Kapan) waktu pelaksanaan Kegiatan tersebut, berapa lama?. Contoh: 23 Februari 2001 sampai dengan 25 Februari 2001</li>
</ul>
<p>Dari pertanyaan-pertanyaan 4 W, maka didapat suatu gambaran sebagai berikut:<br />
pada tanggal 23-25 Februari 2001 akan diadakan DIKLATSAR IX ,yang akan dilaksanakan oleh 20 panitia dan diikuti 5 orang peserta yang inggin dilantik menjadi anggota penuh PMPA VAGUS.tempat yang digunakan untuk DIKLATSAR tsb yaitu Tlogo Dlingo-Tawangmangu.<br />
Untuk How/Bagaimana merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :<br />
•	Bagaimana kondisi Tempat<br />
•	Bagaimana cuaca disana<br />
•	Bagaimana perizinannya<br />
•	Bagaimana mendapatkan air<br />
•	Bagaimana pengaturan tugas panitia<br />
•	Bagaimana Acara DIKLATSAR berlangsung<br />
•	Bagaimana materi yang disampaikan<br />
•	dan masih banyak Bagaimana ? (silahkan anda dapat mengembangkannya lagi)<br />
Dari Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat menyusun Rencana Kegiatan yang didalamnya mencakup rincian :<br />
1.	Pemilihan medan, dengan memperhitungkan lokasi basecamp panitia, pembagian waktu dan sebagainya.<br />
2.	Pengurusan perizinan<br />
3.	Pembagian tugas panitia<br />
4.	Persiapan kebutuhan acara<br />
5.	kebutuhan peralatan dan perlengkapan<br />
6.	dan lain sebagainya.<br />
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah anda akan mendapatkan point-point bagi kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut.</p>
<p><span style="font-weight: bold;"> Packing</span></p>
<p>Sebelum melakukan pendakian kita biasanya menentukan dahulu peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa, jika telah siap semua inilah saatnya mempacking barang-barang tersebut ke dalam Carier atau backpack. Packing yang baik menjadikan perjalanan anda nyaman karena ringkas dan tidak menyulitkan.<br />
Prinsip dasar yang mutlak dalam mempacking adalah :</p>
<ul>
<li> Pada saat backpack dipakai beban terberat harus jatuh ke pundak, Mengapa beban harus jatuh kepundak, ini disebabkan dalam melakukan pendakian kedua kaki kita harus dalam keadaan bebas bergerak, bayangkan jika salah mempacking barang dan beban terberat jatuh kepinggul akibatnya adalah kaki tidak dapat bebas bergerak, dan anda menjadi cepat lelah karena beban backpack anda menekan pinggul belakang.</li>
<li> Ingat : Letakkan barang yang berat pada bagian teratas dan terdekat dengan punggung.</li>
<li> Membagi berat beban secara seimbang antara bagian kanan dan kiri pundak Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu bagian pundak dan memudahkan anda menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur berbahaya yang membutuhkan keseimbangan seperti : meniti jembatan dari sebatang pohon, berjalan dibibir jurang, dan keadaan lainnya.</li>
<li> Pertimbangan lainnya adalah sebagai berikut :</li>
<li> Kelompokkan barang sesuai kegunaannya lalu tempatkan dalam satu kantung untuk mempermudah pengorganisasiannya. Misal : alat mandi ditaruh dalam satu kantung plastik.</li>
</ul>
<ul>
<li> Maksimalkan tempat yang ada, misalkan Nesting (Panci Serbaguna) jangan dibiarkan kosong bagian dalamnya saat dimasukkan ke dalam ransel, isikan bahan makanan kedalamnya, misal : beras dan telur.<br />
• Tempatkan barang yang sering digunakan pada tempat yang mudah dicapai pada saat diperlukan, misalnya: rain coat / jas hujan pada kantong samping Keril/Ransel.<br />
• Hindarkan menggantungkan barang-barang diluar ransel, karena menggantungkan barang diluar ransel akan mengganggu perjalanan anda karena tersangkut-sangkut dan berkesan berantakan, usahakan semuanya dapat dipacking ke dalam ransel.<br />
Mengenai berat maksimal yang dapat diangkat oleh anda, sebenarnya adalah suatu angka yang relatif, patokan umum idealnya adalah 1/3 dari berat badan anda , tetapi ini kembali lagi ke kemampuan fisik setiap individu, yang terbaik adalah dengan tidak memaksakan diri, lagi pula anda dapat menyiasati pemilihan barang yang akan dibawa dengan selalu memilih barang/alat yang berfungsi ganda dengan bobot yang ringan dan hanya membawa barang yang benar-benar perlu.</li>
</ul>
<p><span style="font-style: italic;">By Gappala14</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gappala.or.id/archives/24/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Mendaki Gunung</title>
		<link>http://gappala.or.id/archives/22</link>
		<comments>http://gappala.or.id/archives/22#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 07:13:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gappala.or.id/archives/22</guid>
		<description><![CDATA[

 Pilih Barang Yang Dapat Berfungsi Ganda 
Dalam memilih barang yang akan dibawa pergi mendaki selalu cari alat/perlengkapan yang berfungsi ganda , tujuannya apalagi kalau bukan untuk meringankan berat beban yang harus anda bawa. Contoh : Alumunium foil, bisa untuk pengganti piring, bisa untuk membungkus sisa nasi untuk dimakan nanti, dan yang penting bisa dilipat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="font-weight: normal; text-align: justify;"><a href="http://gang-cemara.blogspot.com/2007/09/mendaki-gunung.html"><br />
</a></h3>
<div style="text-align: justify;"><!-- .fullpost{display:inline;} --> <span style="font-weight: bold;">Pilih Barang Yang Dapat Berfungsi Ganda </span><br />
Dalam memilih barang yang akan dibawa pergi mendaki selalu cari alat/perlengkapan yang berfungsi ganda , tujuannya apalagi kalau bukan untuk meringankan berat beban yang harus anda bawa. Contoh : Alumunium foil, bisa untuk pengganti piring, bisa untuk membungkus sisa nasi untuk dimakan nanti, dan yang penting bisa dilipat hingga tidak memakan tempat di keril.<span id="more-22"></span></p>
<p><span style="font-weight: bold;">Matras </span><br />
Sebisa mungkin matras disimpan didalam keril jika akan pergi kelokasi yang hutannya lebat, atau jika akan <span>membuka jalur pendakian baru. Banyak rekan pendaki yang lebih senang mengikatkan matras diluar, memang kelihatannya bagus tetapi jika sudah berada di jalur pendakian, baru terasa bahwa metode ini mengakibatkan matras sering nyangkut ke batang pohon dan semak tinggi, lagipula pada saat akan digunakan matrasnya sudah kotor.</span></p>
<p><span style="font-weight: bold;">Kantung Plastik </span><br />
Selalu siapkan kantung plastik didalam ransel anda, karena akan berguna sekali nanti misalnya untuk tempat sampah yang harus anda bawa turun, baju basah dan lain sebagainya.</p>
<p>Gunakan selalu kantung plastik untuk mengorganisir barang barang didalam keril anda (dapat dikelompokkan masing-masing pakaian, makanan dan item lainnya), ini untuk mempermudah jika sewaktu-waktu anda ingin memilih pakaian, makanan dsb.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Menyimpan Pakaian </span><br />
Jika anda meragukan keril yang anda gunakan kedap air atau tidak, selalu bungkus pakaian anda didalam kantung plastik, gunanya agar pakaian tidak basah dan lembab.<br />
Sebaiknya pakaian kotor dipisahkan dalam kantung tersendiri dan tidak dicampur dengan pakaian bersih</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Menyimpan Makanan </span><br />
Pada gunung-gunung tertentu (misalnya Rinjani) usahakan makanan dibungkus dengan plastik dan ditutup rapat kemudian dimasukkan kedalam keril, karena monyet-monyet didekat puncak / base camp terakhir suka membongkar isi tenda untuk mencari makanan.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Menyimpan Korek Api Batangan </span><br />
Simpan korek api batangan anda didalam bekas tempat film (photo), agar korek api anda selalu kering.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Packing Barang / Menyusun Barang Di Keril </span><br />
Selalu simpan barang yang paling berat diposisi atas, gunanya agar pada saat keril digunakan, beban terberat berada dipundak anda dan bukan di pinggang anda hingga memudahkan kaki melangkah.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gappala.or.id/archives/22/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perlengkapan Dalam mendaki gunung</title>
		<link>http://gappala.or.id/archives/17</link>
		<comments>http://gappala.or.id/archives/17#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 07:07:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gappala.or.id/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Dalam mendaki gunung atau menjelajah alam pelaku juga harus
-memasak,
-makan,
-tidur dan
-membersihkan diri,
semua dilakukan sendiri, untuk itu pendaki tidak dapat menghindari barang bawaan yang relatif banyak dan berat. Perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk pendakian ? Perlengkapan seorang pendaki berupa sepatu, baju, celanan,jaket,ponco atau rain coat dan ransel. 
1. Sepatu 
Sepatu mendaki yang baik selain melindungi kaki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam mendaki gunung atau menjelajah alam pelaku juga harus<br />
-memasak,<br />
-makan,<br />
-tidur dan<br />
-membersihkan diri,</p>
<p>semua dilakukan sendiri, untuk itu pendaki tidak dapat menghindari barang bawaan yang relatif banyak dan berat. Perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk pendakian ? Perlengkapan seorang pendaki berupa sepatu, baju, celanan,jaket,ponco atau rain coat dan ransel. <span id="more-17"></span></p>
<p><span style="font-weight: bold;">1. Sepatu </span><br />
Sepatu mendaki yang baik selain melindungi kaki dari luka, juga harus nyaman saat dipakai mesti membawa beban berat dimedan licin, berbatu-batu dan curam, jenis sepatu boot paling cocok untuk kegiatan ini, karena melindungi pergelangan kaki hingga mata kaki dari kemungkinan terkilir. Pilihlah sol sepatu dengan kembang-kembang besar, ceruk yang dalam dan memiliki tumit sol seperti ini memungkinkan pemakai dapat mencengkram permukaan meski kondisinya ekstrim (curam, licin atau berbatu-batu)</p>
<p><span style="font-weight: bold;">2. pakaian </span><br />
Pakaian yang ideal saat mendaki di gunung tropis adalah yang relatif tebal dan menyerap keringat , celana yang tidak kaku dan ringan guna melindungi kaki dari goresan duri, baju dari katun atau wol cukup ideal. Sayang bila telah basah, katun tidak mampu menghangatkan badan, baju dari bahan sintetis misalnya polyester dan acrylics sedikit menyerap keringat tetapi cepat kering, sementara bahan nilon sebaiknya tidak digunakan karena tidak menyerap keringat sehingga keringat akan tetap menenpel pada badan, sebaliknya nylon amat baik menahan hujan sehingga banyak digunakan sebagai ponco. hindari pemakaian pakaian berbahan jeans. Bahan ini sukar kering dan berat disaat basah , bila mendaki medan yang dirimbuni pepohonan atau semak tinggi dimana terpaan angin tidak kencang, hindari pemakaian jakat saat berjalan, selain menahan keringat yang menempel di badan jaket juga membuat tubuh terasa gerah karena selama berjalan suhu tubuh meningkat akibat pembakaran zat makanan untuk menghasilkan energi. Pada saat istirahat disela pendakian, pembakaran berkurang, dinginya temperatur di gunung dan hembusan angin maka pendaki akan menghadapi perbedaan draktis temperatur oleh karena itu saat beristirahat sebaiknya pendaki mengunakan jaket atau sweater tebal, bila beristirahat saat hujan sebaiknya menganti baju yang basah dengan baju yang kering.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">3. Jaket </span><br />
Jaket sebaiknya digunakan untuk menahan dingin di puncak atau lokasi kemping saat aktifitas tidak segiat saat berjalan, pilihlah jaket yang berbahan isian (down Jaket) jaket jenis ini cukup tebal dan menahan dingin yang baik, kelemahannya relatif berat dan memakan banyak tempat dalam ransel, jaket lainnya sebaiknya dibawa adalah yang memiliki dua lapisan (double layer) lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyeyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan dingin. Kini teknologi tekstil sudah mampu memproduksi Gore-Tex bahan jaket yang nyaman dipakai saat mendaki bahan ini memungkinkan kulit tetap bernafas, tidak gerah mengeluarkan keringat mampu menahan angin (wind breaking) dan resapan air hujan (water proff) sayang, bahan ini masih mahal.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">4. Ransel </span><br />
(carier bag) Perlengkapan vital pendakian lainnya adalah ransel. kini banyaknya jenis ransel terutama berangka dalam dijual dipasaran fungsi ranga selain menyangga badan ransel tetap tegak mencegah barang didalamya bergeser dan menjaga jarak antara punggung pemakai dari ransel. Akibatnya barang-barang yang keras yang dibawa tidak menyakiti, ransel yang baik dilengkapi tali pengatur sabuk pengendok atau sandang bahu, sandang pinggang atau sabuk pinggang. Sabuk dan tali pengatur itu akan membuat pemakainya nyaman memanggul ransel beserta isinya. Bila pendaki ingin membawa barang bawaan ke bahu dan punggung, kencangkan tali pengatur sandang bahu dan longgarkan sabuk pinggang sebaliknya, bila beban ingin di topang punggung dan pinggang , kencangkan tali sabuk sandang bahu, ransel berdesain baik, bila rangka bagian bawah saat dipakai ada disekitar pinggang sedangkan lengkungan rangka atas sesuai lengkungan tulang punggung pemakai. Ransel yang memiliki beberapa kantung penutup atau badan memiliki banyak keuntungan. Barang-barang kecil seperti botol air minum, jaket atau kamera yang sering dikeluar-masukkan selama pendakian dapat ditaruh disitu, dengan demikian pendaki tidak perlu membuka-tutup dan mengacak-acak isi ruang utama ransel, kekurangan pada ransel yang berkantung banyak akan mengurangi keseimbangan ransel tersebut bila dibawa. Oleh karena itu pilihlah ransel berbahan nilon atau kanvas , nilon selain kedap air juga ringan terutama sewaktu basah, akan tetapi kanvas lebih kuat terhadap goresan .</p>
<p>Bagi pendaki gunung peralatan yang diperlukan untuk olahraga jelajah alam ini tidak hanya ransel, baju, mantel dan ponco, masih ada sejumlah peralatan yang harus dibawa dan disiapkan, apabila kalau pendakian memakan waktu beberapa hari, berikut ini diberikan sejumlah catatan mengenai peralatan apa saja yang perlu dibawa :</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Perlengkapan berkemah </span><br />
Pada saat mendaki gunung memerlukan waktu beberapa hari, mau tidak mau perjalan harus &#8220;dibagi &#8221; dalam beberapa tahap setiap tahap selalu memerlukan tempat , waktu dan sarana untuk beristirahat.</p>
<p>Tempat istirahat ini juga diperlukan bila pendaki sudah mencapai tempat yang dituju, untuk itu, mau tidak mau pendaki harus menbangun kemah, cara berkemah yang paling aman dan nyaman bila mengunakan tenda sekarang ini banyak ragam tenda dari tenda prisma, piramid atau kubah (dome).</p>
<p>Tenda dome belakangan ini lebih banyak digunakan karena mudah dan praktis penggunan maupun saat dibawa, karena tenda dome tidak memerlukan banyak tali dan pasak, untuk mendirikan tenda kubah/dome hanya diperlukan dua rangka utama, untuk itu pilihlah rangka yang terbuat dari alumunium karena lebih baik, ringan dan lentur dibandingkan yang terbuat dari mika.</p>
<p>Peralatan penting lainnya adalah kantung tidur (slepping bag) usahakan kantung tidur tetap dalam keadaan kering, untuk itu jemurlah disiang hari pada saat berkemah. Perlengkapan Memasak. Selama berkemah, pendaki juga harus menyiapkan makanan, untuk itu beberapa jenis kompor ringan dan ringkas dapat dipilih untuk memasak di alam terbuka, kompor yang paling irit terbagi atas beberapa macan seperti kompor dengan bahan bakar padat (Parapin) atau kompor dengan tabung gas berukuran 250 gram dengan tungkai gas yang dapat di bawa dengan mudah, pilihan terakhir mungkin adalah kompor dengan bahan bakar minyak tanah atau lebih dikenal kompor tahu, kompor ini juga mudah dan ringkas untuk dibawa sebab antara tiang sumbu dan tiang penyangga dapat dipisahkan dari bagian tangki bahan bakar.</p>
<p>Namun dengan catatan minyak tanah harus dipisahkan/dikeluarkan dari tabung tangki dan disimpan dalam jerigen atau botol khusus. Selain kompor dua buah panci kecil alumunium atau baja tahan karat cukup untuk memenuhi kegiatan masak-memasak. Satu set panci yang paling praktis dan murah dibawa adalah nesting, set panci yang biasa dijual ditoko perlengkapan militer. Nesting dapat berbentuk kotak atau bulat terdiri dari atas dua panci berukuran sedang dan satu panci pipih yang dapat digunakan sebagai piring atau wadah pemotong bahan-bahan masakan.</p>
<p>Bawalah sendok, cangkir dan piring dari melamin atau plastik, bahan ini sukar pecah, mudah dibersihakan dengan sedikit air dan tisue, bila membawa korek api simpanlah dalam tabung film kaera agar tidak basah dan lembab.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Makanan (logistik).</span><br />
Makanan yang dibawa seharnya dapat memenuhi kebutuhan energi pendaki, selama pendakian seseraoang membutuhkan sitar 5.000 kalori dan 100 gram protein, kalori dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi nasi. Namin aada bainnya hanya memakan nasi satu kali sehari di kala malam (saat berkenah) alanayanya beras realtif berat dan memerluakan waktu yang lama untu memasak serta menghabiskan banyak bahan bakar. Fungsi beras dapat diganti dengan roti, biskuit,coklat, dan hevermit. Hal yang perlu diperjatikan hinadri mengkonsumsi makanan yang harus dimasak lebih dahulu selama mendaki, karean hal ini hanya akan merepotkan dan menghabiskan waktu perjalanan. Pilihlah makanan praktis seperti coklat, roti, agar-agar,buah-buahan, dapat juga dibuat mixfood yang terdiri atas kacang, colat, biskuit dan kismis. Umumnya makanan yang paling praktis dibawa adalah makanan awetan yang memiliki kemasan, buaglah kemasan karton sebelum dimasukan dalam ransel dengan demikian berat ransel dapat berkurang dan kmakanan yang dibawa opun tidak banyak memakan tempat didalam ransel. Peralatan lain . Selain peralatan dan sejumlah perlengkapan, jangan lupa membawa perlengkapan kecil yang terdanag dirasa sepele, namun amat penting. Perlengkapan itu berupa obat-obatan seperti pelester, oabat merah, tisu basah dan ekring, senter, benang, jarum jahit, jam dan alat tulis. Peralatan itu terkanad dibutuhkan dalam keadaan darurat atau menjaga tubuh tetap bersih. Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah jangan lupa membawa tas / kantong plastik , tas plastik tersebut dibutuhkan untuk menarus barang-barang yang kotor dan basah sebelum dicuci dan tas plastik juga berfungsi untuk membawa kembali sampah-sampah pendakian, sampah-sampah sisa makanan atau berkemah, janganlah dibuang begitu saja di alam terbuka selain megotori, membuang sampah dapat menyulitkan usaha pencarian dan pertolongan bagi pendaki yang tersesat atau mengalami kecelakaan, kerap kali usaha pencarian oarang tersesat terbantu dengan petunjuk dari barang0barang yabf tercecer jangan mengangap segala peralatan dan smpah akan membebani perjalaan, seorang mungkin saja dapa belajar mnayalajan api darimranting kayu, mencari makan denga jerat arau menimbun sampah digunumg akantetapi penaki gunung yang juga pencinta alam selalau berperinsip leave nothing but footprint, take nothing but picture, kill nothing but time. Selamat mendaki</p>
<p>By : Yunas<br />
Editing : Gappala14</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gappala.or.id/archives/17/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendakian Milis #pendaki ke Merapi 25-26 Dsember 2004</title>
		<link>http://gappala.or.id/archives/13</link>
		<comments>http://gappala.or.id/archives/13#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 07:04:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gappala.or.id/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[
Pendakian ini adalah pendakian yang dimotori oleh rekan-rekan milis pendaki Indonesia, diikuti oleh 24 peserta dari 4 kota, antara lain Jakarta, Yogja, surabaya dan solo. Dari Jakarta di bagi 2 kloter perjalanan antara lain “kloter Senen” yaitu Bang Nanda, Nhanha, Ryan(M_zikir), Rina, Dini dan Dody. “Kloter Jatinegara” terdiri atas Arinowo, mhama, Barak, Semi, Setia, Ipul, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Pendakian ini adalah pendakian yang dimotori oleh rekan-rekan milis pendaki Indonesia, diikuti oleh 24 peserta dari 4 kota, antara lain Jakarta, Yogja, surabaya dan solo. Dari Jakarta di bagi 2 kloter perjalanan antara lain “kloter Senen” yaitu Bang Nanda, Nhanha, Ryan(M_zikir), Rina, Dini dan Dody. “Kloter Jatinegara” terdiri atas Arinowo, mhama, Barak, Semi, Setia, Ipul, Gethuk, Baba, dan Yanweka.</p>
<p><span id="more-13"></span>Kloter hanya sebutan kami, untuk menyebut groups yang bergabung di dalam team merapi saat itu.</p>
<p>Meeting point yang telah ditentukan adalah Stasiun Tugu Jogjakarta. Tepat pukul 9 pagi kami berkumpul disana, ditambah seorang kawan dari milis Jejak Petualang yaitu Yusup Irfan yang turut bergabung dengan kami sekaligus menjadi guet kami selama perjalanan.</p>
<p>Setalah sarapan pagi lesehan di sebuah warung, kami langsung menlanjutkan perjalanan menuju kota selo, tidak kurang 2.5 jam sampai di kota yang sejuk ini dengan mobil carteran, dan hujan pun menyapa kami dengan lembut.</p>
<p>Di basecamp ini kloter dari solo dan surabaya belum terlihat, menurut kabar sms mereka masih dalam perjalan menuju selo. Kloter solo ini terdiri atas beberapa rekan Palimka dan satu dari surabaya yaitu kiskie.</p>
<p>Terdengar kabar via sms bahwa team yogja yaitu kabul dan badug yang mendaki melalui jalur bebeng sudah mendekati pos 4.</p>
<p>Bila kita simak sedikit tentang gunung merapi ini maka Gunung Merapi (2914 meter) hingga saat ini masih dianggap sebagai gunung berapi aktif dan paling berbahaya di Indonesia, namun menawarkan panorama dan atraksi alam yang indah dan menakjubkan. Secara geografis terletak di perbatasan Kabupaten Sleman (DIY), Kabupaten Magelang (Jateng), Kabupaten Boyolali (Jateng) dan Kabupaten Klaten (Jateng). Berjarak 30 Km ke arah utara Kota Yogyakarta, 27 Km ke arah Timur dari Kota Magelang, 20 Km ke arah barat dari Kota Boyolali dan 25 Km ke arah utara dari Kota Klaten.</p>
<p>Bilamana gunung ini menunjukan kedahsyatan erupsinya, masyarakat Yogyakarta dapat menyaksikan gumpalan asapnya yang berwarna putih kelabu atau kehitaman-hitaman mengepul keatas yang dari kejauhan nampak seperti timbunan bulu domba. Akan tetapi bilaman gunung itu dalam keadaan “tenang”, pesonanya demikian memukau, sehingga merangsang para remajayang ingin berpetualang mendaki gunung dan para pecinta olahraga mendaki gunung untuk menaklukan puncaknya.</p>
<p>Mendaki Gunung Merapi merupakan object wisata petualangan yang sangat menantang bagi para petualang yang ingin merasakan keindahannya. Untuk berpetualang disana anda dapat melalui beberapa jalur pendakian dari tingkat kesulitan yang tinggi hingga melalui jalur yang mudah, jalur pendakian tersebut antara lain melalui jalur pendakian bebeng (sebelah selatan) dan melalui Selo (sebelah utara).</p>
<p>Bagi yang kurang berminat melakukan pendakian sampai ke puncak masih dapat memuaskan hasrat hatinya untuk mengagumi kedahsyatan yang indah dari gunung Merapi ini, dari daerah Bebeng yang terletak lebih kurang 2 kilometer disebelah tenggara daerah Kaliurang, atau bisa juga melihat dari daerah Turi, lebih kurang 5 km disebelah barat daerah Kaliurang, jika ingin menyaksikan puncak Merapi dari kejauhan secara jelas, dapat digunakan teropong pengamat dari Pos Pengamatan Gunung Merapi di Plawangan.</p>
<p>Untuk mendaki gunung ini kita dapat melalui jalur pendakian yang paling mudah yaitu melalui jalur pendakian selo. Selo adalah sebuah kota kecil yang masuk ke dalam kabupaten boyolali. Dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat baik dari arah magelang maupun dari kota boyolali. Kota ini memikili kekhasan tersendiri karena udaranya yang sejuk dan dari sini kita dapat melihat dua buah gunung yang mengapit kota ini yaitu gunung merbabu dan gunung merapi.</p>
<p>kedua gunung tersebut dapat kita daki melalui kota ini dengan catatan untuk mendaki gunung merbabu lebih sulit dari selo karena jaurnya yang terjal, dan berbeda sekali dengan gunung merapi yang dapat kita tempuh hanya memakan waktu 5-6 jam menuju puncak.<br />
Sebelum mendaki alangkah baiknya anda melaporkan rencanan perjalanan anda ke basecamp pendakian yang letaknya tepat di pinggir jalan.</p>
<p>Selain itu di basecamp ini anda dapat menyiapkan segala perlengkapan yangakan dibawa, bila butuh pemandu anda juga dapat menemui banyak sekali pemanda yang siap mengantarkan anda.</p>
<p>3 jam perjalanan kita akan merasakan hutan yang sudah mulai gundul di kawasan ini, dengan jalan tanah bercampur akar-akar pohon, namum keindahan sekelilingnya sudah bisa kita nikmati yaitu sajian kota boyolali dan kota magelang dari kejauhan. setalah itu kita tidak akan menemui pohon yang tinggi dan angin mulai berhembus kencang, anda dapat melihat pemandangan yang sangat menakjupkan yaitu berupa hamparan batu hingga mencapai puncak garuda.</p>
<p>Hambaran batu dikenal dengan pasar bubrah atau pasarnya lelembut, untuk mencapai puncak kita dapat menempuh kurang lebih 1 jam melewati batu sediment bekas letusan gunung tersebut. Puncak Gunung merapi pada ketinggian 2914 Mdpl dengan pesona kawah yang masih aktif dan disana pula anda dapat melihat dan naik ke atas puncak garuda, tanah tertinggi di yogjakarta.</p>
<p>Ngecamp di Watu Gajah<br />
4 Jam perjalanan dari basecamp sampailah kami di watu gajah, di sini kami mendirikan tenda dengan terpaan angin yang cukup kencang. Dipilihnya watu gajah karena kondisi cuaca yang kurang mendukung untuk melanjutkan perjalan ke pasar bubrah, apalagi team solo dan surabaya masih jauh dibawah sana.</p>
<p>Tepat pukul 10 malam team solo dan surabaya sampai di camp, dan meraka langsung mendirikan tenda dan langsung bobo.</p>
<p>Pagi Muncak<br />
Setalah berfoto-foto ria dan sarapan pagi, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju puncak, seluruh team kecuali bang ryan saja yang tetap tinggal di tenda untuk menyediakan makan siang.</p>
<p>Sejak di pasar bubrah saya dan barak melihat jalur yang lumayan terjal<br />
maka itulah saya sengaja informasikan ke kawan barak untuk mengawasi rekan-rekan khususnya cewek, terutama kiskie, dini, dan setia (nhanha juga dech).</p>
<p>Bertemu dengan kabul cs<br />
Sebuah tenda biru tidak jauh dari puncak disanalah team yogja mas kabul dan badung ngecamp tadi malam, Sedangkan posisi saya nggak jauh &#8211; jauh dari bang nanda, hanya saja sewaktu ketemu dengan mas kabul …, posisi saya sudah ada di atas sayap kiri…., dan saya sempet jabat tangan dengan kalian…., dan aku<br />
langsung ngeloyor krn melihat setia ….semakin ke kanan …(salah jalur) dan barak teriak-teriak “kiri-kiri”</p>
<p>diPuncak<br />
1 Jam berjalan santai sampailah di puncak garuda dengan asap belerang yang mengepul dari sela-sela batu membuat sesak nafas, namun tak menghalangi kami untuk berfoto-foto. Dan tentunya yang utama adalah mengucapkan rasa syukur krn masih bisa diberikan kenikmatan menikmati puncak garuda Gunung Merapi.</p>
<p>Selepas berfoto-foto di puncak saya, barak dan ipul sengaja menjadi juru<br />
kunci alias paling buncit…krn jempol kaki kanan terasa nyeri akibat<br />
keseleo…, di temani barak dan ipul kita sempet mandi uap SPA dari uap<br />
yang keluar dari sela-sela batu dikawasan puncak merapi ini.</p>
<p>Sampai di basecamp tenda barulah saya bisa berbincang-bincang dengan mas<br />
kabul dan mas badun9, sambil mendengarkan cerita kalian yang agak<br />
menyeramkan itu…, waktu jualah yang tidak menyempatkan kita untuk<br />
ngobrol-ngobrol lebih lama…, krn kitapun harus mengejar kereta api<br />
sore ini juga…, krn sebagian teman2 harus bekerja pagi harinya.</p>
<p>Terima kasih atas cerita pengalaman kalian, walaupun pertemuan kita<br />
hanya sesaat semoga tali persahabatan ini semakin erat…, dan mohon<br />
maaf bila kami memiliki ke alfaan yang kurang berkenan sewaktu disana.</p>
<p>Terima kasih atas persabatan dan perjalanan yang indah ini. (yanwk/gappala14/milispendaki).</p>
<p>Dan bagaimana kabul dan badung melewati jalur bebeng yang agak terjal dibawah ini kabul akan menceritakan untuk anda.<br />
From: keranda mayat baloengnom16@yahoo.com</p>
<p>Yogyakarta akhir akhir ini sepanjang hari hujan, deras. Jalanan sekitarku kerap<br />
digenangi air setinggi lutut yang sering buat motor mogok. Siang yang mendung<br />
itu, usai hujan dibawah guyuran gerimis kami mencari 4 dirigen 2,5 liter. Saat<br />
ditanyakan oleh ibu penjual dirigen, kami bilang, “Mau buat perjalanan bu, ke<br />
Merapi”.</p>
<p>Lantas ibu itu bilang, Merapi lagi status siaga dik, liat aja di koran<br />
Merapi kemarin, waktu kita cari, ternyata korannya gak ada. Aku tertegun, kaget,<br />
dan bertanya tanya, kalaupun iya, kami harus membatalkan perjalanan. Melihat<br />
kondisi sekarang ini, puncak yang sering diguyur hujan akan meningkatkan<br />
aktifitas kawah yang semakin mengepulkan asap pekat dan tebal.</p>
<p>Ibu itu bercerita panjang lebar, tentang Merapi, tentang mistis Jogja, tentang<br />
aktifitas gaib yang sedang “marah”, kata ibu, “Saat ini alam lagi panas dik,<br />
alam yang nggak keliatan dan yang keliatan, tapi kebanyakan orang nggak<br />
percaya”, cuaca lagi nggak ramah, dan gaib lagi marah karena tempat tempat<br />
mereka diganggu, liat sendirikan, acara acara di TV yang banyak menampilkan<br />
pencarian penampakan, dsb, dsb.” “Adik dari mana? Semarang bu, klo Smg atau dari<br />
Jogja insyaAllah dilindungi,” he he.</p>
<p>Aku bilang, sudah pernah ketemu mbah<br />
Marijan kok bu, juru kunci Merapi, ntar kita juga ijin dulu kesana. Ibu itu<br />
terus bercerita, sementara kita sudah ingin pulang ke kos <img src="http://pendaki.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_sad.gif" alt=":(" /> , akhirnya kami<br />
minta restu dan doa dari ibu ibu yang berumur sekitar 60-an, di doakan euy,<br />
lumayan dapat petuah bijak.</p>
<p>Seharian itu hujan, belanja logistik, terus packing buat perjalanan besok, saat<br />
cari logistik, aku lihat di koran KR, status Merapi aktif normal, angin di<br />
sekitaran puncak tenang, bertiup dari selatan ke barat daya. Cukup aman, kurasa.</p>
<p>Hari Jumat, kliwon, kita sampai di desa Kinahreja, ntah, hari hari mendekati<br />
perjalanan kami selalu bertemu dengan orang tua, dan kebanyakan dari mereka<br />
memberi senyum yang sangat ramah, membuat perjalanan yang menegangkan ini terasa<br />
jelas kutatap, meski cuaca sebenarnya disinipun tak pernah lepas dari hari<br />
gelap, mendung, dan hujan,</p>
<p>ketemu mbah Marijan, mbah sempat khawatir juga, tapi<br />
dengan gaya bicaranya yang khas, tenang dan menyejukkan, senyum lagi, “Adik<br />
sudah pernah kesini? mbah percaya aja sama kalian, asal.. “, sebelum selesai<br />
bicaranya aku ngomong sama mbah, ntar kalo cuacanya nggak memungkinkan kami<br />
nggak meneruskan kok mbah, paling nggak itu bisa membuat beliau tenang.</p>
<p>Lepas dari jam satu siang, setelah hujan deras, sisa sisa gerimis, kami mulai<br />
perjalanan menuju campIV, camp tertinggi di lereng selatan. 1 jam pertama menuju<br />
CampI sempat sinar matahari muncul, menuju campII, dst keadaan gelap, turun<br />
hujan lagi, basah.. basah.. , sampai di CampIV, pukul 17.30. Buka tenda di lahan<br />
yang sempit dan miring, carrier dijadikan alas untuk mengurangi kemiringan<br />
tenda.</p>
<p>Sabtu pagi, pukul 08.00 kita lanjutkan perjalanan ke arah Puncak Utara (Garuda).<br />
Langsung mendaki dan menyisir ke timur. Setiap tikungan dan tanjakan kami beri<br />
marker merah, setiap jarak yang hilang jangkauan pandangan karena kabut, kira<br />
kira 5 meter. Di tempat yang tak terjangkau karena tebing, agar tak kehilangan<br />
jejak, seandainya terjadi hal hal yang memaksa kita turun.</p>
<p>Perjalanan kita dibelah jurang tebing, naik lagi ke atas ke hulu lembah,<br />
melintas di slab berkemiringan 70 derajat, dengan carrier 90liter di pundak,<br />
enak tenan. Kami tak mungkin memanjat tebing setinggi 20meter itu, agak turun ke<br />
bawah, carrier ditanggalkan, kemudian memanjat memasang anchor(tambatan tali) di<br />
batu tebing. Dengan berpegangan pada webbing(tali pita) kita melewati suatu<br />
bentuk patahan tipis dan retak.</p>
<p>Cuaca saat itu kabut namun kadang jarak pandang bisa mencapai puluhan meter ke<br />
sekitar lereng. Membuat perjalanan ini terasa lancar lancar saja, dan kitapun<br />
tertawa.. haa haa. Sampai di tepi batas punggungan mulai mendaki ke Puncak.<br />
Terjal, batu batuan semakin rapuh dan mudah longsor, langit di atas cuman<br />
setinggi kepala, gelap bagai malam, kabut menyergap dari segala penjuru,<br />
diliputi asap belerang yang tebal. Tak terasa di depanku sebuah tebing<br />
menjulang, ketika melongok ke kiri, disamping tebing itu lereng berwarna kuning<br />
kehijauan mengepulkan asap pekat berbau menyengat.</p>
<p>Sejenak kami di balik tebing, bertanya tanya pada kabut dan cuaca, akankah kita<br />
melewatinya? Pandangan tak mungkin tersingkap, maksimal satu dua meter. Ternyata<br />
tak ada pilihan lain, sebelum kami terjebak lebih lama di balik tebing ini, air<br />
bekal kami gunakan untuk membasahi kain untuk masker pernafasan. Aku bilang ke<br />
rekanku, “Kamu cepat ikuti aku,</p>
<p>jangan berhenti dan terus mendaki, tak berpikir<br />
panjang, langkahku dimentahkan belerang rapuh itu, panas, beberapa kali pijakan<br />
hancur karena rapuhnya medan terjal itu, akhirnya usaha yang kulakukan berhasil<br />
juga, diikuti badun9, nafas terlanjur dipenuhi asap sesak dan menyakitkan di<br />
paru paru. Akhirnya aku berdiri di puncak tebing, lahan bebatuan disamping<br />
ladang belerang. Helipad lebar. Tampak beberapa seismograf yang menunjukkan<br />
posisi kami sudah dekat ke arah puncak, namun tak terlihat apapun, kecuali tanah<br />
yang kita pijak. Kemana arah kawah mati? Kabut semakin dingin, gelap gulita, aku<br />
putuskan menunggu beberapa detik menunggu jarak<br />
pandang melebar.</p>
<p>Sampai akhirnya, kami coba melangkah satu dua meter meraba kondisi medan. Aku<br />
ingat jalan ke bibir kawah mati cenderung menurun. Masih ragu ragu, kita hanya<br />
berhenti memandang kegelapan kabut, kulemparkan dua batu besar untuk mengetahui<br />
mana jurang kawah mati. Dalam kekacauan ini terlihat setumpukan batu, kemudian<br />
bendera orange pendakian anak anak TWKM kemarin, kami bisa menentukan arah<br />
perjalanan. Jurang kawah mati di depan mata,</p>
<p>tapi kami tak sanggup melangkah<br />
kecuali hanya menahan dingin dan menahan nafas akibat asap kawah.<br />
Terjebak ntah berapa menit, samar samar tampak sebuah kabel hitam, aku ingat,<br />
pendakianku dulu mengikuti kabel karet ini, “Ini jalannya,” tanpa ragu lagi kita<br />
menyisir bibir kawah selebar satu meter yang mendaki, melewati sumur uap yang<br />
tampak mengerikan, dihantam kabut dan angin kencang.</p>
<p>Sampai di jalur lereng puncak dari arah utara. Istirahat sebentar, hampir pukul<br />
14.30. Carrier kami tinggal dan segera mendaki 5menit ke puncak Utara, cuaca<br />
semakin tdk menentu, gerimis, ambil dua foto, dan langsung turun ke arah<br />
carrier.<br />
Segera memakai raincoat kemungkinan akan terjadi hujan badai. Kami melanjutkan<br />
perjalanan turun ke arah pasar Bubrah, tapi diguyur hujan deras, disertai petir.<br />
Segera lereng ini menjadi aliran air yang mengalir deras, pemandangan yang<br />
sangat indah, bagai di tengah riak jeram, namun keadaan tak memungkinkan untuk<br />
mengambil kamera.</p>
<p>Kami tetap berjalan ditengah guyuran hujan, sesekali merunduk sejenak saat<br />
kilatan petir menyambar. Kami berjalan menepi ke tebing tebing yang sepintas<br />
seperti air terjun yang mengucurkan air melimpah. Tanpa sengaja kutemukan<br />
cerukan tebing menjorok ke dalam, disana kami cukup mendapatkan perlindungan<br />
dari hujan deras. Menunggu hujan reda, akhirnya kami putuskan flycamp di atas<br />
batuan tebing ini.</p>
<p>Hari mulai sore, cuaca semakin membaik, namun kabut masih menyelimuti.<br />
Melewatkan malam minggu di lahan sempit miring di lereng bawah puncak. Menunggu<br />
kabar teman dari Jakarta, esp. Gethuk “Truwelu”. Paginya, meski matahari tak<br />
bersinar secerah dan sepanas yang kami inginkan, bekal basah kami keringkan di<br />
atas bebatuan, sambil menunggu sms dari Geth, sesaat kemudian Hp berdering, Geth<br />
mengabarkan, teman teman dalam perjalanan ke Puncak dari bawah pasar Bubrah,<br />
“Ok, tak tunggu pak, Selamat Mangkat” jawabku singkat.:)~</p>
<p>Pukul berapa, aku lupa, melewati kami dua orang ke puncak, kemudian beberapa<br />
saat lagi, lewat tiga orang, aku tanya salah satu dari mereka, “Dari mana mas?”,<br />
dia jawab, “Pathuk, ngantar teman dari Jakarta”, Kemudian aku tanya lagi ce di<br />
belakangnya, “Dari Jakarta mbak, yah, ada yang namanya Gethuk??” Dia melewati<br />
kami terus berhenti di depan, “Oh ini khabul yah”, perkenalan dengan mbak</p>
<p>Nhanha, disusul rombongan di belakangnya dari anak anak Gappala, teman teman<br />
Palimka, andri, agus, dst, dan ketemu dengan abang kita, bang Nandha <img src="http://pendaki.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /> ,<br />
kemudian ntah urutan mana yang benar, Arief Gethuk, Rina, Dodi, Kiskie, oh iya,<br />
Dini, terus.. dst, perkenalan, salam salaman kemudian mereka ke puncak.<br />
Beberapa saat setelahnya suasana kabut kemudian gerimis, sebentar kemudian kita<br />
selamatkan barang barang terus packing Carrier.<br />
Kita sama sama turun ke pasar Bubrah, dan seterusnya ke Basecamp Selo.<br />
Tak terasa kaki kami melangkah menjauh tebing yang beberapa hari ini menemani<br />
dan menjadi naungan kami, jauh dari getaran getaran kaki manusia di Puncak yang<br />
sunyi.</p>
<p>thx to: mbah Marijan, mbah mbah yang telah memeberi kami nasehat dan restunya,<br />
dan terutama kepada Allah Swt yang memberikan langit-Nya untuk dinikmati, dan<br />
teman teman semua, haa haa ,.,</p>
<p>Team Jakarta mengucapkan terima kasih kepada seluruh team Palimka, Team Jakarta, team Jogja. Semoga perjalan ini menjadikan kita lebih arif dan bijak, persaudaraan dan persahabatan adalah ikatan murni yang tertuang di dalam jejak-jejak langkah yang tertinggal di puncak sana.</p>
<p>Yanweka(gappala14-milisPendaki)</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gappala.or.id/archives/13/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Survival Dan Pengendalian Diri</title>
		<link>http://gappala.or.id/archives/11</link>
		<comments>http://gappala.or.id/archives/11#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 06:49:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gappala.or.id/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:Trinawa Bhuwana 
Survival adalah keadaan dimana diperlukan perjuangan untuk bertahan hidup. survival merupakan kehidupan dengan waktu mendesak untuk melakukan improvisasi yang memungkinkan. kuncinya adalah menggunakan otak untuk improvisasi.
Statistik membuktikan hampir semua situasi survival mempunyai batasan waktu yang singkat hanya 3 hari atau 72 jam bagi orang hilang, dan yang mampu bertahan cukup lama tercatat sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-style: italic;">Oleh:Trinawa Bhuwana </span></p>
<p>Survival adalah keadaan dimana diperlukan perjuangan untuk bertahan hidup. survival merupakan kehidupan dengan waktu mendesak untuk melakukan improvisasi yang memungkinkan. kuncinya adalah menggunakan otak untuk improvisasi.</p>
<p>Statistik membuktikan hampir semua situasi survival mempunyai batasan waktu yang singkat hanya 3 hari atau 72 jam bagi orang hilang, dan yang mampu bertahan cukup lama tercatat sangat sedikit sekitar 5 persen itupun karena pengetahuan dan pengalamannya.  Dalam situasi survival janganlah tergesa-gesa menentukan prioritas survival karena dapat berakibat salah, gagasan kaku yang tidak boleh ditawar-tawar juga akan berakibat fatal.</p>
<p><span id="more-11"></span><br />
Ketepatan memutuskan dengan didukung pengalaman dan hasil diskusi dapat menguntungkan. karena situasi darurat perlu pertimbangan dan sikap tegas dalam mencapai tujuan akhir. Dalam keadaan survival diperlukan pengetahuan terhadap kondisi dan kebutuhan tubuh, bukan mutlak mengerti secara fisik tetapi memahami reaksi atau dampak akibat pengaruh lingkungan. menggunakan pengetahuan dalam usaha mengatur diri saat keadaan darurat adalah kunci dari survival. pengaturan disini adalah memelihara ketrampilan dan kemampuan untuk mengontrol sumber daya didalam diri dan kemampuan memecahkan persoalan, bila pengaturan keliru, tidak hanya badan terganggu akan tetapi dapat langsung berdampak terhadap kemampuan untuk tetap hidup. Memahami jenis kebutuhan hidup yang menjadi prioritas sangat menguntungkan didalam situasi survival.<br />
Dalam kondisi survival tantangan yang sangat dominan adalah sikap mental atau psikologis untuk mencari kebutuhan tubuh dan untuk memperolehnya dibutuhkan gagasan-gagasan dengan dasar pertimbangan dari pengalaman atau pendidikan yang pernah diikutinya, pengalaman hidup dengan resiko tinggi dan aktivitas menantang terbukti dapat membuat orang belajar untuk berbuat yang lebih baik dan melakukan adaptasi efektif.</p>
<p>Kebutuhan dasar hidup manusia sebenarnya sangat sederhana, bagaimana ribuan tahun yang lalu manusia tidak mempunyai pakaian, rumah, mobil, makan tiga kali sehari setiap hari. tetapi mereka dapat tetap bertahan hidup. daftar barang-barang yang dibutuhkan untuk hidup dan berapa lama orang itu bisa hidup tanpa perlengkapan itu sangatlah bervariasi dengan berbagai pertimbangan.<br />
berikut adalah contoh susunan prioritas dalam keadaan survival :<br />
1. Tentunya yang paling utama adalah udara. bernafas dilakukan setiap detik untuk bertahan hidup oleh karena itu udara mendapat prioritas utama untuk bertahan hidup. survival tanpa udara umumnya hanya bertahan selama 3 sampai 5 menit.<br />
2. Selanjutnya dibutuhkan perlindungan, dari cuaca buruk dan keganasan alam. sejak keberadaannya manusia dibatasi lingkungannya sendiri mulai dari temperatur yang sangat berpengaruh pada tubuh. untuk itu diperlukan sesuatu yang dapat melindunginya contohnya api yang dapat menghangatkan dan menjaga temperatur tubuh, jika tidak ada rumah, tenda atau gua. api dapat dimasukkan kedalam prioritas kedua<br />
3. Istirahat, sepele namun dibutuhkan, dengan istirahat jaringan tubuh akan terbebas dari CO2, asam dan pemborosan lain. istirahat yang dimaksud adalah istirahat fisik dan juga mental. sebab stress dapat mengurangi kemampuan untuk bertahan. dengan demikian istirahat dapat dimasukkan kedalam prioritas ketiga.<br />
4. Air. kehilangan cairan dan kondisi air yang tidak dapat diminum adalah persoalan didalam survival. tubuh manusia kira-kira terdiri dari 2/3 jaringan yang mengandung air. dan merupakan bagian sistem sirkulasi di dalam organ tubuh. air dapat menjaga suhu tubuh, memperlancar buang air dan mencerna makanan. kondisi lingkungan yang exstrem tanpa air dapat mengurangi kemampuan bertahan hidup hingga tiga hari. sehingga air dapat dimasukkan kedalam prioritas keempat. sangatlah bijaksana apabila pemakaian air dapat dihemat.<br />
5. Tubuh manusia membutuhkan makanan tiga kali sehari. tetapi sementara banyak manusia di benua lain hanya dapat makan sekali sehari atau bahkan tidak makan berhari-hari. catatan menunjukkan bahwa tanpa makanan survivor dapat bertahan selama 40 sampai 70 hari. keharusan untuk mendapatkan makanan adalah prioritas terakhir dalam survival. penghematan energi adalah salah satu cara untuk mengimbangi kekurangan makanan.</p>
<p>Sikap dalam Survival<br />
Sikap cepat tanggap dalam keadaan darurat sangat diperlukan. Setiap orang harus dapat berbuat yang terbaik dalam memprioritaskan pandangan terhadap lingkungan darurat. hal ini tidak mudah karena sikap ini perlu latar belakang pengetahuan dan keterampilan. bila semua prioritas telah diperoleh, tetapi masih kehilangan kemauan untuk hidup atau kemampuan untuk menguasai mental yang disebabkan kondisi fisik, maka akhirnya akan hilang sama sekali. kondisi yang demikian sangat membahayakan dan bahkan sesuatu yang menguntungkan pun akan dibuangnya. juga yang perlu diingat janganlah meremehkan sesuatu yang anda lihat. sikap mental positif sangat diperlukan untuk menganalisa semua yang bertentangan dengan tubuh.</p>
<p>Apa saja yang berguna dalam menghadapi situasi survival dapat dilihat dalam dua persoalan :<br />
1. Kesiapan mendiskusikan dengan jelas apakah anda ingin hidup ?, ungkapan yang sederhana. Secara naluriah manusia mempunyai insting untuk menjaga diri. Banyak kegiatan survival yang menunjukkan adanya jalan keluar dari periode fisik ekstrem dan mental stress ke posisi tenang. sadar atau tidak orang mempunyai kekuatan untuk dirinya sendiri terhadap kematian. oleh karena itu setiap orang juga mempunyai kekuatan untuk dirinya sendiri terhadap kehidupan.<br />
2. Kemampuan untuk memecahkan persoalan, hal ini didapat jika kita mampu mempertahankan kondisi tubuh. sebagai contoh : tubuh manusia bekerja optimum dengan temperatur 37 derajat C. mengabaikan temperatur lingkungan akan menyebabkan penyempitan susunan fungsi inti didalam tubuh yang efektivitasnya tinggi. yang pada akhirnya akan mengganggu peredaran darah, menurunkan aktivitas sel, dan akhirnya otak cepat kehilangan hubungan dengan realitas, akhirnya bertindak irrasional berbarengan dengan turunnya koordinasi yang akhirnya berakibat fatal. pengetahuan dan pengalaman tidak ada artinya kalau tubuh hanya bekerja dengan separuh kemampuannya. penghematan sumberdaya seperti energi, panas dan air adalah penting.</p>
<p><span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;">Sumber : RESCUE (Buletin SAR) GAPPALA14<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gappala.or.id/archives/11/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perlengkapan jalan (untuk medan hutan gunung)</title>
		<link>http://gappala.or.id/archives/6</link>
		<comments>http://gappala.or.id/archives/6#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 06:44:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gappala.or.id/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yanweka dan Ucha Gappala14-Cipinang
1. Sepatu
Melindungi tapak kaki sampai mata kaki · Kulit tebal tidak mudah sobek bila kena duri. · Keras bagian depannya, untuk melindungi ujung jari kaki apabila terbentur batu. · Bentuk sol bawahnya dapat menggigit ke segala arah dan cukup kaku · Ada lubang ventilasi bersekat halus.

2. Kaos kaki · Menyerap keringat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="item_body">Oleh: Yanweka dan Ucha Gappala14-Cipinang</p>
<p>1. Sepatu<br />
Melindungi tapak kaki sampai mata kaki · Kulit tebal tidak mudah sobek bila kena duri. · Keras bagian depannya, untuk melindungi ujung jari kaki apabila terbentur batu. · Bentuk sol bawahnya dapat menggigit ke segala arah dan cukup kaku · Ada lubang ventilasi bersekat halus.<br />
<span id="more-6"></span><br />
2. Kaos kaki · Menyerap keringat · Menghindari lecet pada kaki</p>
<p>3. Celana lapangan · Kuat, lembut, ringan, praktis · Tidak menggangu gerakan kaki · Terbuat dari bahan yang menyerap keringat · Mudah kering, bila basah tidak menambah berat</p>
<p>4. Baju Lapangan · Melindungi tubuh dari kondisi sekitar · Kuat, ringan, tidak menggangu pergerakan · Terbuat dari bahan yang menyerap keringat · Praktis, mudah kering</p>
<p>5. Topi lapangan · Melindungi kepala dari kemungkinan cidera akibat duri · Melindungi kepala dari curahan hujan, terutama kepala bagian belakang · Kuat dan tidak mudah robek</p>
<p>6. Sarung tangan Sebaiknya terbuat dari kulit, tidak kaku dan tidak menghalangi pergerakan</p>
<p>7. Ikat pinggang Terbuat dari bahan yang kuat, dengan kepala yang tidak terlalu besar tapi teguh. Kegunaan ikat pinggang selain menjaga agar celana tidak melorot juga untuk meletakkan alat-alat yang perlu cepat dijangkau , seperti pisau pinggang, tempat air minum dll.</p>
<p>8. Ransel (carrier) Ringan, kuat, sesuai dengan kebutuhan dan keadaan medan, nyaman dipakai dan praktis.</p>
<p>9. Peralatan navigasi Kompas, peta, penggaris, busur derajat, pensil dll.</p>
<p>10. Lampu senter · Water proof dan dilapisi karet · Bola lampu dan batery cadangan</p>
<p>11. Peluit</p>
<p>12. Pisau · Pisau saku serba guna · Pisau pinggang · Golok tebas</p>
<p>13. Perlengkapan tidur :</p>
<ul>
<li>1. Satu set pakaian tidur</li>
<li>2. Kaus kaki untuk tidur</li>
<li>3. Sleeping bag</li>
<li>4. Matras</li>
<li>5. Tenda/ ponco/ plastik untuk bivak</li>
</ul>
<p>14. Perlengkapan masak dan makan :</p>
<ul>
<li>1. Alat masak lapangan (misting)</li>
<li>2. Alat bantu makan lainnya (sendok, piring, dll)</li>
<li>3. Alat pembuat api (lilin, spirtus, parafin, dll)</li>
</ul>
<p>(sumber Diktat DIKSAR Gappala14 di G. Salak)</p>
<p>Sumber : <a href="mailto:gappala14@yahoo.com">gappala14</a> Tanggal: 4/1/2002 2:21:48 PM</div>
<div style="clear: both;"><!-- --></div>
<p><strong></strong><a href="http://mapalastiekom.multiply.com/journal/item/5"><br />
</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gappala.or.id/archives/6/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknik penelusuran gua horizontal</title>
		<link>http://gappala.or.id/archives/1</link>
		<comments>http://gappala.or.id/archives/1#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 04:28:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gappala.or.id/pendaki/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Medan pada gua horisontal sangat bervariasi, mulai pada lorong-lorong yang dapat dengan mudah di telusuri, sampai lorong yang membutuhkan teknik khusus untuk dapat melewatinya.

a.Lumpur.
Lorong yang berlumpur dapat dengan mudah kalau lumpur tersebut tidak terlalu tebal. Tapi dalam kondisi lumpur setinggi lutut bahkan sampai setinggi perut, kita tidak mudah untuk melaluinya.
Untuk melewatinya kita bergerak dengan posisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Medan pada gua horisontal sangat bervariasi, mulai pada lorong-lorong yang dapat dengan mudah di telusuri, sampai lorong yang membutuhkan teknik khusus untuk dapat melewatinya.<br />
<span id="more-1"></span><br />
a.Lumpur.<br />
Lorong yang berlumpur dapat dengan mudah kalau lumpur tersebut tidak terlalu tebal. Tapi dalam kondisi lumpur setinggi lutut bahkan sampai setinggi perut, kita tidak mudah untuk melaluinya.<br />
Untuk melewatinya kita bergerak dengan posisi seperti berenang. Dengan posisi seperti ini akan lebih mudah bergerak dan menghemat tenaga.</p>
<p>b. Air.<br />
Untuk kondisi lorong gua yang berair. terutama gua yang belum pernah di masuki kita tidak mengetahui kedalaman air dan kondisi di bawah permukaan air, untuk itu kita harus mengetahui prosedur dan mempunyai fasilitas pendukung.</p>
<p>Syarat utama untuk melewati lorong yang berair adalah harus bisa berenang. Tetapi dengan kondisi lorong yang serba terbatas, teknik berenang dalam gua berbeda dengan berenang di kolam renang. Di sini kita memakai pakaian lengkap, sepatu bahkan mungkin membawa beban yang cukup berat.</p>
<p>Pembagian team juga harus di sesuaikan, untuk leader ia tidak boleh membawa beban berat, karena leader harus membuat lintasan dan mempelajari kondisi medan.<br />
Dalam kondisi tertentu kita menggunakan pelampung, perahu karet terutama untuk lorong yang panjang dan berair dalam.</p>
<p>Ada juga lorong yang hampir semua di penuhi oleh air hanya ada ruangan sedikit yang tersisa. Untuk melewatinya kita harus melakukan DUCKING ( kepala menengadah). Kadang-kadang kita harus melepas helm untuk menambah ruang gerak kepala. Dalam kondisi tertentu kita melakukan ducking dengan jongkok, bahkan dengan berbaring kalau badan tidak dapat masuk seluruhnya.</p>
<p>Diving, adalah teknik penyelaman dengan alat bantu pernafasan dan pakaian khusus. Teknik ini di lakukan pada lorong yang seluruh bagiannya tertutup oleh air (sump, siphon). Untuk perbandingan resiko kematian di cave diving adalah 60% tewas. Sedang resiko caving 15 %. Dengan melihat perbandingan resiko kematian yang besar ini kita di tuntut untuk ekstra hati-hati, seyogyanya tidak meneruskan penelusuran jika tanpa alat pendukung yang standart.</p>
<p>c.Climbing.<br />
Dalam suatu penelusuran gua terkadang kita menjumpai adanya water fall ataupun lorong yang terletak di atas kita. Untuk dapat meneruskan penelusuran kita harus menggunakan teknik-teknik Rock Climbing. Seperti memasang pengaman sisip dan bor tebing untuk pembuatan lintasan, yang melakukan adalah leader dan kemudian anggota yang lain melewatinya dengan SRT. Teknik rock climbing harus bisa di lakukan pada kondisi medan seperti :<br />
• Aliran air yang deras dan kita tidak mengetahui kedalamannya.<br />
• Gua yang berbentuk celah dan menyempit bagian dasarnya<br />
• Sungai besar atau danau yang dalam.<br />
• Pemasangan rigging pada waterfall.<br />
• Menghindari calcite floor atau oolith floor.</p>
<p>E-mail Pengirim: ucan_clim @plasa.com  Tanggal: 6/5/2006 6:19:13 AM<br />
Sumber : Gappala14 Jakarta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gappala.or.id/archives/1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://analytics.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://analytics.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Code -->
